Kemudian pada hari Selasa Allah menciptakan gunung dan manfaat-manfaat di dalamnya, pada hari Rabu Dia menciptakan pepohonan, air, barang tambang, keindahan dan kehancuran, Dia membelah langit yang tadinya satu menjadi tujuh langit pada hari Kamis dan Jum'at. Dinamakan hari Jum'at karena pada hari itu Dia mengumpulkan penciptaan langit dan bumi, Dia mewahyukan perintah-Nya pada setiap langit. Kemudian Dia berkata: pada setiap langit Allah menciptakan ciptaan-Nya, dari malaikat, lautan, gunung salju dan apa saja yang tidak diketahui oleh selain Dia. Kemudian Dia menghiasi langit dengan bintang-bintang, maka Dia menjadikannya sebagai hiasan dan perlindungan yang Yang dia jaga dari syetan-syetan, kemudian setelah Dia selesai menciptakan apa yang Dia sukai, maka Dia bersemayam di atas Arsy.
Dengan sanad ini, As-Suddi menyebutkan banyak sekali sesuatu yang gharib di dalamnya, diantaranya adalah kekeliruan dari kisah yang didapat dari Israiliyyat. Karena sesungguhnya ketika Ka'ab Al Ahbar masuk islam pada zaman Umar, dia selalu berkata kepada Umar bin Khatab tentang segala sesuatu dari ilmu-ilmu ahlul kitab, lalu Umar mendengarkannya untuk menyenangkan hatinya. Dia pun terkejut dari apa yang dia sampaikan ternyata sesuai dengan kebenaran yang disebutkan dalam syariat Islam yang suci, oleh sebab itu, banyak dari ulama yang memperbolehkan untuk menyampaikan apa yang diriwayatkan oleh Ka'ab Al Ahbar, dan ketika sudah ada izin untuk menyampaikan hadits tentang Bani Israil, namun sayangnya banyak sekali terdapat kekeliruan yang fatal dan kesalahan yang besar dari apa yang dia riwayatkan.
Imam Al Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Muawiyah, bahwa dia berkata tentang Ka'ab Al Ahbar: meskipun bersamaan dengan itu kami menghitungnya sebagai pendusta. Maksudnya yaitu dari apa yang dia riwayatkan, bukan bahwa dia terbiasa demikian. Wallahu A'lam. Kami menyebutkan apa yang kami riwayatkan dari yang telah diteliti oleh para ulama besar terdahulu dari mereka.
Kemudian kami mengikutinya dengan berbagai hadits yang menguatkannya dalam hal pembenaran atau pun pendustaan terhadapnya, sementara sisanya adalah hadits yang tidak dianggap benar atau dusta, hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan bertawakkal.
Imam Al Bukhari berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, Mughirah bin Abdurrahman Al Qurasi menceritakan kepada kami, dari Abu Zinad, dari Al A'raj, dari Abu Hurairah (ra), dia berkata: Rasulullah (saw) bersabda:
لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ : إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي.
Transliterasi: "Lammaa qadhallaahal-khalqa kataba fii kitaabihi, fahuwa 'indahu fawqal-'arsyi: inna rahmatii ghalabat ghadhabii."
Artinya: "Ketika Allah telah menentukan (menyelesaikan penciptaan) makhluk-Nya maka Dia menulisnya dalam Kitab-Nya, kitab itu berada pada-Nya di atas Arsy; 'Sesungguhnya rahmat-Ku telah mengalahkan kemarahan-Ku'."