Transliterasi: "Inna rabbakumullaahulladzii khalaqas-samawaati wal-ardha fii sittati ayyaam."
Artinya: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa." (Qs. Al A'raaf [7]: 59). Juga terdapat dalam ayat lain dari surah Al Qur'an. Para Ahli tafsir telah berselisih pendapat tentang jumlah enam hari ini, dan itu terbagi kepada dua pendapat, yaitu:
Jumhur Ulama berpendapat: bahwa itu sama seperti hari-hari kita sekarang. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas (ra), Mujahid, Adh-Dhahhak dan Ka'ab Al Ahbar: sesungguhnya setiap hari darinya itu seperti seribu tahun yang kita hitung. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir [144] dan Ibnu Abu Hatim, disamping itu Imam Ahmad bin Hanbal telah memilih pendapat ini dalam kitabnya sebagai bantahan terhadap Al Jahmiyah. Sementara itu Ibnu Jarir dan sebagian ulama kontemporer juga menganut pendapat ini, wallahu a'lam.
Ibnu Jarir [145] meriwayatkan dari Adh-Dhahhak bin Muzahim dan lainnya, bahwa nama-nama enam hari tersebut yaitu: Abjad, Hawwaz, Huththi, Kalamun, Sa'fash dan Qarasyat. Ibnu Jarir [146] telah mengisahkan tentang hari yang pertama berdasarkan tiga pendapat: sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid bin Ishaq bahwa dia berkata:
Penganut kitab Taurat berkata: Allah memulai penciptaan pada hari Ahad.
Penganut kitab Injil berkata: Allah memulai penciptaan pada hari Senin.
Sedangkan kita sebagai muslim sesuai riwayat terakhir yang sampai kepada kita dari Rasulullah (saw): Allah memulai penciptaan pada hari Sabtu. Ini adalah pendapat yang dikisahkan oleh Ibnu Ishaq dari umat muslim, kelompok ulama Ahli Fiqih dari penganut madzhab Asy-Syafi'i dan lainnya lebih condong kepada pendapat tersebut.
Nanti akan disebutkan hadits Abu Hurairah (ra) bahwa Allah telah menciptakan tanah (debu) pada hari Sabtu, [147] Juga pendapat bahwa itu adalah hari Ahad.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari As-Suddi, dari Abu Malik, juga Abu Shalih dari Ibnu Abbas (ra), juga dari Murrah, dari Abdullah bin Mas'ud (ra) dan jamaah dari para sahabat: Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Salam dan Ibnu Jarir memilihnya. Itu adalah teks dalam Taurat, kelompok ulama dari Ahli Fiqih yang lain lebih condong kepada pendapat itu. Itu menjadi menggunakan lafazh Ahad, oleh karena itu, Dia menyempurnakan penciptaan dalam enam hari yang hari akhirnya adalah Jum'at, kemudian umat muslim menjadikannya sebagai hari Id atau pertemuan mereka setiap minggu (shalat Jum'at), yaitu hari yang Allah telah menyesatkan Ahlul kitab sebelum kita darinya, sebagaimana yang Insya Allah akan disebutkan penjelasannya. Allah juga berfirman: [148]
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Transliterasi: "Huwalladzii khalaqa lakum maa fil-ardhi jamii'an tsummastawaa ilas-samaa'i fasawwaahunna sab'a samawaat, wa huwa bikulli syai'in 'aliim."