Sedangkan firman-Nya, [153] "Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya, ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (Qs. An-Nazi'at [79]: 27-33), sebagian ulama telah berpegang teguh terhadap ayat ini sebagai dalil atas penciptaan langit yang lebih dahulu daripada penciptaan bumi. Maka pendapat mereka bertentangan dengan penjelasan dua ayat yang sebelumnya, mereka juga tidak memahami makna ayat ini, karena sesungguhnya ayat ini meliputi makna bahwa dihamparkannya bumi (tanah) dan dikeluarkannya air serta tumbuhan darinya itu sebenarnya setelah diciptakannya langit. Di dalam Bumi tersebut telah ditentukan kadar-kadar makanannya, sebagaimana firman Allah, "Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa...." (Qs. Fushshilat [41]: 10), maksudnya yaitu Allah telah menyediakan tempat-tempat bercocok tanam, mata air dan sungai-sungai. Kemudian setelah Dia menyempurnakan bentuk alam semesta dari yang rendah sampai yang atas dengan hamparan bumi, maka Dia mengeluarkan darinya apa yang tersimpan di dalamnya, Dia menumbuhkan tanaman dan buah-buahan, oleh karena itu, luas dan hamparan bumi disini ditafsirkan dengan dikeluarkannya air dan tumbuhan darinya serta dipancangkannya gunung-gunung, maka Allah berfirman, [154] "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya, ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya" (Qs. An-Nazi'at [79]: 30-31), dan firman-Nya: "Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh" (Qs. An-Nazi'at [79]: 32), yaitu menetapkannya di tempat-tempatnya dengan teguh dan menguatkannya.
Kemudian firman-Nya, [155]
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ * وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ * وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Transliterasi: "Was-samaa'a banainaahaa bi-aidin wa innaa lamuusi'uun. Wal-ardha farasynaahaa fani'mal-maahiduun. Wa min kulli syai'in khalaqnaa zawjaini la'allakum tadzakkaruun."
Artinya: "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa. Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 47-49).