Pesan ini aku tulis untuk sebuah buku yang kutinggalkan.

 

Saat itu, aku tidak sadar telah memasuki sebuah dunia asing. Dunia yang bergerak serba cepat, di mana setiap orang harus terus berlari hanya agar tetap hidup. Seolah tubuh berteriak meminta henti, tetapi jika berhenti, ia akan mati dan terinjak. Di sana, orang-orang menuhankan pikirannya sendiri, bertingkah seakan manusia tak memiliki batas. Saking cepatnya dunia itu berputar, aku lupa bahwa aku pernah mengingatnya. Aku kehilangan jati diri dan merasa begitu asing. Sesekali ingatan itu muncul, tetapi aku sekadar menolaknya, berlagak seolah tak pernah mengenal buku itu. Aku terus berjalan mengikuti pikiran yang sebenarnya telah sepenuhnya dikendalikan oleh dunia tersebut.

 

Aku terjebak di sebuah tempat di mana aku tak lagi berbicara dengan manusia. Tidak ada sedikit pun celah bagiku untuk merasakan indahnya sinar matahari. Kehidupanku hanya berputar di dalam kamar dengan penerangan seadanya, hingga mataku terasa perih ketika harus menatap cahaya terang. Aku semakin melupakan buku itu; di tengah kesibukan yang menyita, tak ada waktu walau sedetik pun untuk sekadar bernostalgia. Sejujurnya, aku tidak menyukai barang elektronik. Semakin lama digenggam, ia terasa semakin mengikis sisi kemanusiaanku setiap harinya. Semakin hari, aku semakin menuhankan logika dan membuang jauh-jauh perasaan—sampai akhirnya aku lelah, lalu menemukan sebuah dunia yang lain.

 

Aku melangkah masuk ke dunia baru, dunia di mana semua orang kembali berbahasa manusia. Di sana, huruf-huruf tidak lagi seragam dan tak memiliki pola yang pasti. Aku mulai belajar bahasa manusia lagi, sesuatu yang sudah sekian lama tak kulakukan. Terakhir kali aku mempelajari sebuah bahasa adalah demi memahami buku yang pada akhirnya kulupakan itu, dan setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi dan benar-benar berpisah dengannya. Perlahan, kupelajari bahasa itu sedikit demi sedikit, kata demi kata, sampai aku bisa menangkap garis besar dari apa yang mereka bicarakan.

 

Kini, aku berada di antara kedua dunia itu, mampu memahami keduanya dengan amat jelas. Namun, aku tetap merasa tersesat dan diliputi perasaan ganjil—seperti ada seseorang yang tengah menungguku untuk pulang. Sempat kuhiraukan perasaan itu, tetapi semakin dalam aku menyelami dunia ini, rasanya semakin sulit keluar dan hanya membuahkan kekhawatiran. Pada titik itulah, aku memutuskan untuk berhenti menyelam lebih jauh dan memilih pulang. Dalam hati aku bergumam, "Setidaknya, aku sudah mengetahui sesuatu." Aku pun pulang membawa pelajaran.